News Ticker

image slider by WOWSlider.com v9.0

Pendirianku dan Bagaimana Aku Melihat LGBTQ+ Sekarang

Kayaknya aku udah pernah bahas ini deh, cuma entah kenapa pengen ngebahas hal ini lagi lebih detail :v.

Alasan aku ngebahas ini lagi adalah karena aku nganggap ini adalah topik serius yang menyangkut hak-hak dari tiap manusia untuk hidup. Postingan ini adalah pandanganku pribadi dari nilai-nilai yang aku pegang sampai postingan ini naik dan aku ga akan memaksakan pandanganku untuk kalian pakai dan percayai, karena aku paham setiap orang pasti punya cara pandang mengenai hal yang cukup sensitif ini. Karena perbedaan cara pandang ini yang akhirnya menimbulkan huru-hara di masyarakat.

Di masyarakat modern ini, kita dihadapin dengan begitu banyak macam dan jenis makhluk sesama Homo sapiens, mulai dari ras, warna kulit, agama, cara ngomong, cara berpikir, sampai ke orientasi seksual yang berbeda-beda. Hal ini udah ga bisa kita hindari dan ga bisa kita tolak. Kalau mau ngehindari perbedaan, ya tinggal aja di hutan. Beres.

via GIPHY

LHO KOK NGEGAS MEKKK :v.

Ngga ngegaaass.. cuma emang bawaan guweh aslinya gini *emot batu*.

Oke, lanjut.

Eh, tapi sebelum lanjut (gimana sih :v), di postingan ini aku ga akan nyentuh sisi bagaimana agama memandang hal ini, karena ya jawabannya udah cukup jelas dan ga perlu dibahas lagi :v. Sekali lagi, postingan ini murni dari apa yang aku percayai dan bagaimana cara pandangku melihat fenomena ini. Dan, aku harus bilang kalau perbedaan pendapat itu ga boleh jadi alasan untuk kebencian. Setiap orang berhak punya pendapat dan cara pandangnya masing-masing terhadap sebuah isu, dan semuanya itu sah.

Oke, kita masuk ke mode serius, yak.

Latar Belakang Kehidupanku yang Akhirnya Melandasi Pemikiranku

Aku hidup dan dibesarkan di keluarga yang agamis dan sekarang juga berada dan berkarya di lingkungan yang agamis. Tapi, aku juga hidup di dunia luar yang cukup heterogen, di mana aku nemu'in banyak banget temen di luar kalangan non-agamis, dari yang nakalnya luar biasa, ga punya semangat hidup, sampe mereka yang masuk ke kalangan LGBTQ+. Ya, aku berteman dengan mereka--sampai sekarang, entah itu yang aku temui secara tatap muka, maupun yang aku temui secara online lewat media sosial.

Dengan berkembangnya ruang lingkup pergaulanku, serta juga dengan berkembangnya cara berpikirku, akupun mengalami pergeseran cara aku melihat fenomena ini. Dulu, aku adalah orang yang bisa dibilang homophobic alias aku akan menghindari mereka yang berada dalam golongan ini, apapun yang terjadi, bahkan kalau mereka ga ada niat jahat sekalipun. Ya, karena aku cuma tau dan memahami dari satu sisi saja. Tapi, ada satu titik di mana pandanganku bener-bener berubah.

Perubahan Cara Berpikir dan Memandang

Dulu, aku pernah punya adik kelas waktu aku masih SMP yang gay. Sebenarnya dia gak pernah mengakuinya secara terang-terangan di sekolah, tapi dari gelagat dan cara dia berpakaian, bertingkah laku--terutama sama yang sesama jenis--itu kelihatan. Sampai akhirnya aku nemuin postingan curhat dia di Facebook yang dia mengakui kalau dirinya gay karena faktor hilangnya sosok Ayah di hidupnya--dan dia sendiri sebenernya ga mau hidup dengan cara kayak gitu. Di situ, akhirnya aku mulai ngerti sesuatu.

Mungkin banyak dari mereka yang sebenernya tidak ingin hidup dengan cara seperti ini. Faktor lingkungan, didikan orang tua, bahkan mungkin genetik bisa berpengaruh. Semua paparan dari luar dan dalam diri seseorang bisa ngebentuk bagaimana orang itu menjalani hidupnya.

Tapi, Mike, kan sebenernya mereka bisa milih buat gak hidup dengan cara seperti itu?

Aku punya pendapat yang cukup rumit untuk pertanyaan ini. Semoga aku bisa ngejelasinnya dengan baik dan semoga ga ada salah paham aowkowok. Karena udah cape banget disalahpahamin :(.

Aku bagi jadi dua bagian. The inner part dan the outer part. The inner part, maksudnya apa yang terjadi di alam pikiran. The outer part, maksudnya bagaimana seseorang bertindak dan berperilaku karenanya.

The inner part. Aku percaya segala sesuatu terjadi pasti ada sebab-akibat. Seseorang bisa jadi pemarah karena ada sebab. Seseorang bisa jadi cengeng karena ada sebab. Dan, seseorang bisa jadi LGBTQ+ pasti karena ada sebab. Dan kadang, itu bukan "sesuatu yang bisa dipilih atau ngga". Bentar, jangan salah paham dulu. Aku jelasin. Cara seseorang tumbuh, di mana dia dibesarkan, relasi dengan orang tua, pengalaman hidup, dan faktor-faktor lain bisa ngasih pengaruh tentang bagaimana seseorang melihat dirinya dan ngejalanin hidupnya, seperti contoh adik kelasku waktu SMP itu tadi. Tapi, aku juga sadar bahwa hal ini bukanlah hal yang dapat disederhanakan demikian. Setiap orang pasti punya cerita dan pengalaman yang berbeda. Atas dasar ini aku melihat bahwa kadang apa yang terjadi di dalam diri seseorang ga selalu sepenuhnya bisa dipilih. Ada proses panjang di sana, baik dari dalam maupun luar dirinya. Oleh karena itu, penting buat seseorang punya satu "pegangan" sehingga orang itu ga "goyah".

The outer part. Ini yang aku setuju kalau ini bisa dipilih atau ngga. Bagaimana seseorang bertindak dan berperilaku itu bisa dikendalikan, dan seharusnya bisa dikendalikan. Di sisi ini, aku ga terlalu setuju kalau seseorang bertindak tidak sesuai dengan "kodrat"-nya, atau minimal, sesuai budaya di tempat ia tinggal. Maksudku, yang wajar-wajar aja :v. Kita hidup di dunia timur, maka hiduplah sesuai nilai-nilai yang dianut di dunia timur. Kalau cowo ya berperilakulah seperti cowo pada umumnya, kalau cewe ya berperilakulah seperti cewe pada umumnya.

Tentang Kasih Sayang dan Hasrat Seksual

Satu yang aku percaya bahwa kasih sayang dan hasrat seksual itu dua hal yang berbeda. Keduanya bisa berjalan berdampingan, namun bisa juga berjalan sendiri-sendiri. Maksudnya, seseorang bisa sayang tanpa adanya hasrat seksual, atau sebaliknya, seseorang bisa punya hasrat seksual tanpa ada rasa sayang.

Menurut Soetjiningsih (1995), kasih sayang adalah salah satu bentuk perwujudan proses pengembangan timbal balik rasa cinta dan kasih sayang antara sesama manusia, serta antar generasi yang merupakan dasar hubungan kekeluargaan yang harmonis. Berdasarkan pengertian ini, aku percaya kalau kasih sayang itu ga terbatas pada gender. Buktinya? Aku sayang sama papaku. Aku sayang sama temen-temenku setongkrongan yang sama-sama cowo. Dan itu wajar. Papaku keluargaku, dan temen-temen deketku juga aku anggap keluargaku. Papaku yang ngasih aku makan dari kecil, yang ngebeliin obat waktu aku sakit, yang rela jungkir balik biar aku bisa sekolah. Temen-temenku biasa denger curhatanku, aku bercanda bareng mereka, bahkan kalau ada masalah atau aku butuh sesuatu, mereka yang turun tangan nolongin aku. Aku sayang tanpa adanya hasrat seksual ke mereka. Tapi, tentu, balik lagi ke poinku sebelumnya. Rasa sayang itu harus diekspresikan secara wajar.

Menurutku, perbedaan utama antara kasih sayang dan hasrat seksual itu ada pada arah dan tujuannya. Kasih sayang orientasinya pada kedekatan emosional, kepedulian, dan relasi. Sementara itu, hasrat seksual berhubungan dengan ketertarikan fisik dan dorongan biologis. Aku bisa peduli, deket sama orang, dan merasa terikat dengan orang tersebut tanpa harus memiliki ketertarikan seksual terhadapnya. Jadi, aku ga bisa bilang kalau cowo sama cowo bisa deket itu sesuatu yang ga normal. Tapi balik lagi, segala sesuatu harus diekspresikan secara wajar dan sesuai dengan budaya di mana orang tersebut hidup.

Di Mana Posisiku Berdiri Dalam Isu Ini?

Tanpa mengurangi rasa hormat ke teman-teman yang berada dalam ruang lingkup LGBTQ+, sampai sekarang aku masih percaya dan berpendapat kalau di dunia ini hanya ada dua gender, laki-laki dan perempuan--dan memang nyatanya demikian. Laki-laki akan berkeluarga dan meneruskan keturunan dengan perempuan. Namun, bukan berarti aku ga menerima temen-temen LGBTQ+. Seperti yang di awal aku bilang, aku masih berteman dengan mereka sampai sekarang, dan aku ga menutup diri untuk ngejalin hubungan komunikasi dengan mereka. Aku hanya melihat mereka sebagai sesama manusia yang butuh temen dan butuh untuk didengar, dan aku akan berusaha hadir untuk mereka. Namun dengan catatan, aku menerima keberadaan mereka, tapi aku secara personal gak bisa menerima gaya hidup mereka.

Satu yang aku percaya sampai sekarang, ga ada di dunia ini yang namanya "permanen". Semua bisa berubah, semua bisa diusahakan. Aku tau, banyak dari mereka sebenernya juga ga mau jadi demikian. Aku yakin, dengan adanya penerimaan, dengan adanya telinga yang mendengar, dengan adanya sosok yang hadir, masih ada harapan buat mereka.

Di postingan ini aku cuma mau nekenin kalau mereka juga manusia biasa. Kita-kita yang straight juga banyak salah kok. Dosa kita juga ga kalah ngeri. Oleh karena itu, ga ada alasan untuk jadi phobia dengan mereka. Hadir, jadi teman, dan beri pengaruh positif. Hidup ga akan jadi lebih baik dengan adanya kebencian. Dunia ini udah cukup chaos, ga usah ditambah-tambahin dengan hatred. Hidup berdampingan, jadi teman, tanpa menghakimi, dan bawa pengaruh positif. Niscaya, dunia ini bakal jadi lebih baik :).

via GIPHY

Komen dong h3h3h3h3

0 Komentar