News Ticker

image slider by WOWSlider.com v9.0

Ga Semua Hal Harus Dicurigai

Belakangan ini aku lagi nyadarin sebuah hal. Aku menemukan ada orang-orang tertentu yang kebetulan berada di sekitarku yang seolah lebih mudah percaya kalau sesuatu itu dilakukan secara curang daripada nerima kemungkinan kalau memang hal itu dilakukan dengan jujur. Dan… entah kenapa itu ngebuat aku resah. Jadi, ijinkan kali ini aku menulis dari keresahanku :v. #curcol

Di dunia yang serba “bisa diakalin” dan “bisa diatur” ini, emang kita-kita perlu makin pandai dan cerdik dalam menilai sesuatu. Kalo ga gitu, kita emang dengan gampang dibodohin. Tapi, sama seperti hal-hal yang lain—segala sesuatu yang berlebihan itu ga baik—termasuk skeptisisme.

Sebelum lanjut, mari kita berubah mode jadi ‘orang pinter’ bentar. Brb, mau ambil aer buat disembur.

NGGA DONG, bukan ‘orang pinter’ yang itu maksudnya :v.

via GIPHY

Balek ke topik.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), skeptisisme adalah aliran (paham) yang memandang sesuatu selalu tidak pasti (meragukan, mencurigakan). Jadiii, sederhananya, skeptisisme itu kecenderungan seseorang buat meragukan sesuatu sebelum mempercayainya. Orang yang punya paham ini akan mempertanyakan segala sesuatu, bahkan untuk hal yang mungkin sudah pasti sekalipun. Aku ga bilang hal ini salah, tapi balik lagi—aku yakin segala sesuatu yang berlebihan itu ga baik, termasuk hal ini.

Aku punya salah satu temen yang punya cara berpikir kayak gini, tapi cenderung berlebihan menurutku. Setiap ada sesuatu, dia selalu melihat dari sisi buruknya. Misalnya, di Final Piala Dunia kemaren dia juga sempat berpendapat kek gini beberapa hari sebelum pertandingan dimulai. Kan ketemu tuh antara Spanyol sama Argentina. Dia bilang, pasti sudah di-setting kalau Argentina yang menang karena itu pertandingan terakhir Messi. Dan, seperti yang bisa kita lihat, Argentina justru kalah dan malah Spanyol yang menang.

Masih dengan orang yang sama, dan ini cerita yang berkaitan langsung dengan aku dan ini yang jadi alasan aku nulis di sini.

Suatu kali, aku pernah jadi salah satu tim produksi dari sebuah acara pemerintah. Tentu saja aku ga akan sebut di sini karena kalau aku sebut, nanti temen-temen terdekatku langsung tau aku lagi ngerasani siapa :v.

via GIPHY

Saat itu, aku bertugas jadi content operator. Salah satu tugasku adalah nampilin semua konten baik gambar, video, dan lain sebagainya ke layar penonton. Nah, di acara tersebut, ada undian hadiah, dan undian tersebut pake tool online buat ngacak nama, dan aku yakin 99,9% itu tool bukan mereka yang buat—alias pake pihak ketiga, dan sistemnya memang ngacak beneran. Aku bilang ini karena aku yang ngoperasi’in tool itu dan dari yang kulihat, memang ga ada mekanisme di mana aku bisa ngatur siapa yang menang. Dan sialnya, aku dicurigain nge-set siapa yang menang atas arahan panitia karena cuma gara-gara lagi ngelakuin arahan dari panitia buat nge-test itu langsung di layar. Iya, cuma nge-test itu tool berjalan normal atau ngga, ga lebih dari itu.

Tapi dari yang aku tangkep, aku dicuriga’in hanya karena yang ngadain acara dan undian itu dari pemerintah, dan kebetulan aku ‘ngebantu’ panitia dari salah satu instansi pemerintah itu untuk nampilin sistem undian hadiah itu.

Jujur aja, aku ga bisa menerima cara berpikir orang seperti ini. Mereka nuduh sesuatu, tanpa bisa membuktikan tuduhannya. Aku malah lebih respect sama mereka yang buat-buat teori konspirasi tapi ada bukti pendukungnya daripada orang-orang kayak gini, yang melandaskan penilaiannya hanya karena buruknya citra seseorang atau organisasi atau instansi. Mungkin aja citra mereka buruk, tapi bukan berarti semua hal yang mereka lakukan pasti salah dan pasti menyalahi aturan.

Ngga, aku ga lagi dibayar saat nulis ini. Jadi, jangan bilang aku buzzer ya aowkowkokwow. Aku nulis ini murni karena aku cukup risih namaku jadi jelek cuma gara-gara ini.

Menjadi kritis itu baik, tapi bukan berarti mempertanyakan segala hal dan bahkan cenderung secara berlebihan mencurigai sesuatu. Kek, emangnya enak ya setiap saat mencurigai segala sesuatu? Menurutku orang yang hidup kek gitu bukannya puas dan bahagia malah yang ada hidupnya ga tenang dan dipenuhin kebencian. Dan, cape ga sih hidup kek gitu? :(

I mean, menjadi curiga itu ga masalah, asal masih ada ruang yang cukup buat “kepercayaan”. Karena, ga semua asumsi yang ada di pikiran kita itu adalah sebuah kebenaran, dan ga semua asumsi yang ada di pikiran kita harus jadi sebuah kebenaran. Dan, dari yang aku amati dan juga berdasarkan pengalamanku sendiri, musuh terbesar dari sebuah hubungan—apapun itu, mau pernikahan, bisnis, pertemanan, you name it—adalah asumsi. Percayalah, asumsi kita itu banyak-banyaknya ga bener. Jadi, jangan percayai asumsi dan kecurigaan kita 100%. Selalu sisakan ruang buat “kepercayaan” untuk tetep hadir dan ‘ngimbangin’ itu.

Bersikap kritis itu emang bakal ngebuat kita ga gampang dibohongin. Tapiii, tetaplah jadi manusia dengan ngasih ruang buat “kepercayaan” juga hadir di sana. Segala jenis hubungan—apapun itu—dibangun dan didasari kepercayaan, bukan asumsi dan kecurigaan.

Ga semua hal itu harus dicurigain. Kadang emang kita cuma perlu ngasih kesempatan pada sebuah kemungkinan yang lain yaitu kemungkinan di mana bahwa hal tersebut memang sudah berjalan sebagaimana mestinya.

Karena bisa jadi, dunia itu ga seburuk asumsi yang kamu buat dan percayai :).

via GIPHY

Komen dong h3h3h3h3

0 Komentar